Posted in
Jarum Kompas
Posted by
Kemana Angin Berhembuson Friday, May 14, 2010
Hal-hal yang gue suka mengenai Semarang yakni destinasi wisata di kota ini letaknya saling berdekatan, kotanya bersih, masyarakatnya ramah, lingkungannya asri, tidak terlalu berpolusi, tidak macet, dan kulinernya cocok di lidah. City Tour Hari ke 2 di Kota Semarang diawali di pagi hari menyelusuri Jalan Pemuda menuju Lawang Sewu dan Tugu Muda menyisiri trotoar berbata-block yang lebar dan rapi. Beragam aktivitas masyarakat setempat untuk berolahraga dapat kita temukan khususnya di pelataran taman Tugu Muda yang menjadi icon Kota Semarang. Setelah mengambil beberapa gambar dengan latar Tugu Muda dan Gedung Lawang Sewu. Gue berencana menuju Kuil Sam Poo Kong di daerah Gedung Batu.
Untuk mencapai Kuil Sam Poo Kong di daerah Gedung Batu dari sekitar Tugu Muda sebaiknya kita menyeberang jalan ke sisi Gereja (dekat Tugu Muda) di bawah ini karena dekat dengan jalan yang menuju arah kesana.
Info yang gue peroleh ternyata kendaraan yang melintasi klenteng tersebut amat jarang, setelah bertanya dengan Pak Polisi, gue disarankan untuk menggunakan Taksi. Ternyata untuk menuju ke daerah Gedung Batu hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit. (dengan ongkos taksi Rp 15rb). Tiba di lokasi, tampak dari luar klenteng ini tampak seperti rumah ibadah lazimnya. Untuk masuk ke dalam di kenakan tarif Rp 3rb (untuk Turis Lokal) atau Rp10rb (untuk Turis Asing). Sekedar informasi, Klenteng ini dibangun oleh seorang utusan dari Tiongkok yang bernama Sam Poo Tay Djien dalam lawatannya ke Semarang dari rangkaian kunjungannya ke negara-negara Asia. Jujur ini merupakan tempat wisata terbaik selama kunjungan 2 hari gue di semarang. Klentengnya begitu indah karena setiap aspek ornamen-ornamen interior dan eksterior begitu kental nuansa Tiongkok dipadu dengan bentuk atap joglo. Mungkin gue salah satu orang yang terbilang beruntung, karena diizinkan untuk memasuki dalam klenteng tanpa dipungut biaya hehehehe seharusnya untuk memasuki ke dalam klenteng dipungut biaya lagi sebesar Rp 20rb untuk turis lokal atau Rp 30rb untuk Turis asing. Bagi yang tidak ingin berfoto di dalam klenteng, diizinkan untuk menikmati dari sisi luar bangunan klenteng alias di halamannya saja (umumnya dilakukan turis lokal). Sisi halaman klenteng sudah sangat indah untuk mengabadikan gambar, di tempat ini kita bisa berfoto dengan beraneka ragam patung termasuk patung Laksamana Cheng Hoo yang konon beragama Islam atau sekedar berfoto dengan latar belakang Klenteng dan miniatur Kota Terlarang.
Ternyata waktu 2 hari melakukan City Tour cukup efektif dan efisien untuk menikmati setiap jengkal Kota Semarang. Semarang dengan Kota Tuanya yang terawat, bangunan-bangunan bersejarah, bangunan modern, makanannya yang lezat, dan pusat oleh-oleh dalam radius yang saling berdekatan menjadi nilai tambah bagi Semarang untuk bersaing dengan kota lain sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia. Letak Stasiun Tawang dan Bandara Ahmad Yani yang letaknya dekat dari pusat kota menjadikan perjalanan tidak terlalu melelahkan dan enteng di ongkos. Apalagi saat ini telah tersedia Bus Trans Semarang dengan rute mengelilingi kota + Halte Busway versi mini dr halte Busway di Jakarta. Keramah-tamahan warga semarang merupakan pemanis perjalanan gue kali ini (End).
0 comments:
Post a Comment